Merantau ke Jepang (Part1)

Friday, December 15, 2017

Merantau Ke Jepang (part 3)

Assalamualaikum


Halo-halo sobat...
Wah postingan Merantau ke Jepang panjang banget ya.. sampe ada part1 dan 2.
mau sampe part berapa ya? Perjalanan menuju Jepang memang panjang sobat, oleh karena itu setiap momen akan menjadi sebuah cerita menarik yang sayang kalau ngga di share.
Setelah di part sebelumnya kita membahas pelatihan tahap awal di daerah, sekarang saya mau ajak sobat untuk berbagi cerita tentang pelatihan tahap akhir sebelum berangkat ke Jepang. Ja ikimasyou....



Pelatihan Tahap Akhir (Pra Pemberangkatan)


Horee, alhamdulillah akhirnya selesai juga pelatihan tahap pertama di Bandung. Peserta yang sudah dinyatakan lulus dan juga sudah mendapatkan perusahaan penerima akan berangkat ke tempat pelatihan tahap akhir pra pemberangkatan.

Dimana tempat pelatihannya?? di Balai Pelatihan CEVEST Bekasi. Sebenarnya ada juga di Balai Latihan Lembang Bandung. Tapi saat itu pelatihan hanya dilakukan di Cevest saja.

Oh iya sobat, saat itu kami selesai pelatihan tahap pertama pas banget menjelang lebaran loh, jadi tidak ada waktu lama buat yang sudah lulus untuk liburan. Karena setelah lebaran berkumpul bersama keluarga peserta harus langsung berkumpul lagi di kantor Disnaker untuk berangkat ke Cevest Bekasi.

Momen ketika keberangkatan dari Disnaker cukup mengharukan loh sobat, saat itu banyak anggota keluarga yang juga ikut mengantarkan. Ketika bis meninggalkan Disnaker banyak peserta yang sedih karena mereka harus berpisah dengan anggota keluarganya, termasuk saya heheheh..karena ini pertama kali saya lepas dari keluarga untuk waktu yang sangat lama.

intermezo 1
sobat, ada sedikit cerita lucu nih pada saat kami akan berangkat dari Disnaker ke Bekasi. Jadi pada saat persiapan berangkat kami melakukan pengecekkan kembali barang-barang yang wajib dibawa. Termasuk kerapihan seperti rambut harus gundul tipis.

Nah jadi beberapa dari teman saya ada yang belum gundul rambutnya sebut saja dia Mawar hehe...
namanya Robil san (san/さんadalah kata yang digunakan untuk memanggil nama seseorang dalam bahasa Jepang) namanya hampir mirip dengan saya ya tapi bukan saya loh :)).

Sambil menunggu keberangkatan, Robil san pergi ke tukang cukur yang dekat dari gedung Disnaker. Tidak hanya Robil san beberapa peserta lain melakukan hal yang sama dengan Robil san. Alhasil tempat tukang cukurpun jadi penuh dan mereka harus antri.

Akhirnya tibalah giliran Robil san untuk diukur eh maksudnya dicukur, ketika ditengah-tengah saat sedang dicukur. Panitia yang dari Disnaker pun memanggil kami untuk segera berkumpul untuk upacara pemberangkatan.
Robil san pun mendengar panggilan tersebut langsung panik dan tanpa menyelesaikan prosesi cukurannya ia pun memberikan uang kepada tukang cukur dan lari tunggang langgang ke tempat upacara akan dilaksanakan.

Ketika Robil san memasuki barisan, saya melihat peserta yang lain menahan tawa dan saya penasaran kenapa mereka tertawa. Setelah saya tanya pada salah satu teman yang ada disamping saya, ternyata  kepala Robil san yang rambutnya belum selesai dicukur adakah penyebabnya. Ketika saya melihatnya saya pun harus menahan tawa.

Upacara pun berlangsung dengan khidmat disertai langit kota Bandung yang mendung kala itu dan angin yang meniup dedaunan kering yang berguguran,,,, loh jadi drama! (intermezo bersambung..).


Tiba di Cevest Bekasi


Pada saat pelatihan tahap pertama, sering kami mendengar kabar bahwa pelatihan di pusat lebih ketat dan disiplin tinggi (kibishi). Bis pun tiba di Balai Pelatihan Cevest Bekasi, dan pandangan kami semua melihat-lihat ke setiap penjuru Cevest seperti ingin tahu benar apakah tempat ini seperti apa yang senior-senior kami pernah ceritakan.

Setelah turun dari bis, kami berbaris sambil membawa koper yang berisi peralatan pribadi dan peralatan belajar selama 2 bulan kedepan. Kemudian masuk ke kelas untuk menunggu instruksi selanjutnya.



Intermezo 2
Masih ingat dengan cerita dari Robil san di intermezo 1?...ketika kami sedang duduk dikelas saat menunggu instruksi, seorang sensei masuk. Ditengah-tengah memberikan penjelasan sensei melihat Robil san yang saat itu duduk baris terdepan. "Rambut kamu kenapa itu?" kata sensei kepada Robil san dengan nada tegas sambil menahan tawa. Setelah Robil san menceritakan kejadian yang membuat rambutnya menjadi pusat perhatian, sensei menyuruh Robil untuk mencari alat pemotong rambut.


Tak lama Robil san pun kembali dengan alat pemotong rambut yang ia dapatkan entah dari mana pada saat itu. Ia pun akhirnya bisa merapihkan rambutnya saat kembali ke asrama dengan bantuan dari salah satu temannya.


Di Cevest sobat akan tinggal di asrama yang satu kamar berkapasitas 8 orang. Dengan tempat tidur tingkat. Kamar harus selalu bersih, maka dibuatlah petugas piket kebersihan kamar. Karena jika saat ada patroli kamar terlihat kotor maka akan menjadi masalah besar.

Pada awal pelatihan di Cevest, awalnya sama dengan pelatihan di daerah. Akan dilakukan tes untuk penempatan kelas. Kemudian sosialisasi peraturan yang tidak jauh beda dengan pelatihan daerah.

Saya waktu itu masuk kelas B, kalau kelas A itu isinya yang level bahasa Jepang nya sudah jago alias mantap (berdasarkan tes) dan kalau kelas C akan mendapat perhatian yang lebih. Pekerjaan atau tugas masing-masing pun sama dengan di daerah seperti petugas yang meminta PR, petugas yang memanggil sensei, petugas yang mengumpulkan PR dan lain-lain.

Sobat harus  bisa membagi waktu antara istirahat dan mengerjakan PR yang diberikan oleh sensei, karena PR yang diberikan tidak sedikit. Kalau sobat ada kesalahan dalam mengerjakan PR maka yang salah tersebut akan menjadi PR begitu seterusnya. Jadi kalau sobat banyak PR, bisa-bisa sobat tidur subuh. Ini banyak terjadi pada peserta. Seperti efek domino gara-gara satu kesalahan bisa merembet menjadi kesalahan yang lain.

PR yang diberikan tidak sulit,hanya menulis kalimat yang sama sebanyak 5 atau 10 kali. Yang diperlukan yaitu ketelitian dan kecermatan Agar tidak ada salah kata atau huruf.

Pukul 4.30 pagi kami harus sudah bangun untuk mengikuti kegiatan olahraga. Biasanya senam atau lari jogging sekitar Cevest. Kemudian dilanjutkan dengan makan pagi bersama. Setelah itu sobat kembali ke asrama untuk mandi dan mempersiapkan peralatan belajar di kelas.

Dari asrama, sobat menuju kelas untuk menyimpan tas dan mengumpulkan PR kemudian berkumpul di lapang untuk melakukan senam Rajio Taisho, sobat masih inget kaan??... yang belum tau silahkan sobat baca postingan sebelumnya.

Setelah senam, dilanjutkan dengan pembacaan Jisshusei no Kokorogamae. Sobat masih inget juga kaan.. lalu latihan salam ala Jepang (Ojigi) menunduk. Setelah itu kegiatan belajar mengajar dilakukan di kelas.

Kurang lebih seperti itulah rutinitas selama 2 bulan di pelatihan yang kami jalani. Oh iya khusus di hari Jumat ada pemeriksaan badan yang dilakukan oleh sensei. Tenang aja... ngga dibuka semua ko cuma baju aja yang dibuka.

Karena udara di Bekasi cukup panas, biasanya penyakit yang sering timbul adalah biang keringat bahkan ada juga herpes. Saya sendiri pernah mengalami biang keringat sehingga sensei menyuruh saya ke klinik.

Peraturan di Kelas

Selama di pelatihan ini sobat harus bisa menjaga sikap dan perilaku. Karena biasanya peserta masih terbawa oleh perilaku saat diluar lingkungan pelatihan. Maka jangan heran kalau di pelatihan ini ada banyak peraturan yang harus sobat ikuti. Salah satu nya yaitu peraturan ketika dikelas.

1. Di kelas tidak menggunakan sepatu

Masuk kedalam kelas, kami tidak boleh menggunakan sepatu, jadi sepatu harus disimpan rapi diluar kelas. Kalau sampai berantakan seperti sendal di rental PS sobat akan kena hukuman atau bahkan 1 kelas.

2. Sikap Duduk

Kursi dipelatihan adalah kursi yang seperti di perkuliahan, atau kursi yang menyatu dengan meja kecil dibagian depannya. Sobat harus duduk tegap jika sensei sedang mengajar tidak bisa duduk santai atau leyeh-leyeh. Ini akan ditegur dan akan mendapat hukuman.

3. Tidak Boleh Ngobrol

Saat sensei sedang mengajar,sobat jangan sekali-kali ngobrol atau bahkan bercanda karena pasti akan ditegur dan bisa-bisa sobat dapat hukuman lagi deh. Kecuali kalau saat belajar diskusi ya.

4. Jangan ketiduran di Kelas

Yang satu ini nih pasti banyak kejadian. Biasanya terjadi pada peserta yang banyak PR sampai-sampai ngerjain PR hingga jam 1 malam atau bahkan jam 2. semoga sobat tidak mengalaminya ya.

Dari setiap pelanggaran yang sobat lakukan, akan dicatat oleh sensei dan masing-masing pelanggaran harus diselesaikan dengan cara mendatangi sensei yang bersangkutan. Kemudian menceritakan sebab kita melakukan kesalahan tersebut, perbaikan dan menjalani hukuman.

Untuk hukuman ini bervariasi loh sobat, ada yang setelah kegiatan belajar selesai harus bersih-bersih toilet. Ada juga yang tidak boleh mengikuti kegiatan belajar meskipun boleh ikut kegiatan belajar itu pun harus berdiri dibelakang kelas sambil memegang buku pelajaran.

Kegiatan di hari Sabtu dan Minggu diisi dengan kegiatan olahraga dan membersihkan lingkungan pelatihan. dan khusus di hari Sabtu dan Minggu kami boleh keluar untuk pelesir dan harus kembali ke tempat pelatihan sore hari untuk apel sore.

Waktu pelesir biasanya kami gunakan untuk pergi mencari makanan enak seperti nasi Padang atau fast food heheh... maklum karena makanan selama pelatihan alakadarnya. Dan biasanya kami sekalian belanja untuk perlengkapan yang akan dibawa  ke Jepang.

Fasilitas olahraga di Cevest saat itu cukup lengkap, sobat bisa bermain bulutangkis, sepakbola lapang kecil, dan bola voli. Jika sobat sedang berolahraga agar hati-hati ya supaya tidak ada cedera serius yang bisa mengganggu rencana keberangkatan.

Minggu-minggu terakhir di Cevest

2 minggu sebelum keberangkatan saya sakit herpes, sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan belajar dikelas. Tidur pun dipisah dikamar lain dan makan pun ada peserta yang mengantarnya. Dengan kata lain saya dikarantina, supaya tidak menyebar ke peserta lainnya.

Kondisi tersebut sempat membuat saya putus asa, karena bisa-bisa ditunda atau tidak jadi berangkat. Melihat kamar karantina yang tidak bersahabat atau kata lain berdebu dan kotor. Saya berfikir "bisa-bisa saya malah sakit gangguan pernapasan nih kalau lama-lama disini". Saya menyiasati dengan cara setiap malam tidak tidur di kamar karantina tapi di tengah malam saya pindah ke kamar.

Dan di subuhnya saya kembali lagi ke kamar karantina, hehe ... itulah cara saya supaya tidak tidur di kamar karantina yang berdebu dan lembab. Alhamdulillah teman-teman sekamar mengerti dan mereka tidak masalah dengan siasat saya berpindah dimalam hari.

Coba sobat bayangkan kalau kita berada didalam ruangan yang kotor, lembab dan berdebu pasti akan mengganggu pernapasan bukan?

Setelah sembuh dari sakit saya kembali ke kelas untuk ikut kegiatan belajar. Karena sudah memasuki hari-hari terakhir. Banyak ujian dan tes yang harus diikuti. Tes akhir yaitu tes bahasa Jepang dan tes fisik. Semua peserta mempersiapkan diri sebaik2nya, mulai dari menghapal bahasa Jepang juga latihan fisik seperti lari, push up dan sit up.



Pengumuman Perusahaan Penerima


Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh peserta. Diumumkannya nama perusahaan dan tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan teman satu perusahaan. Saya dan satu orang teman bernama Nur Rohim san asal Cirebon ditempatkan di pabrik Sanesu Gomu Kogyo (nama perusahaan) yaitu pabrik yang memproduksi produk olahan karet. Seperti karet packing untuk pipa air, dan ada juga karet untuk ban mesin traktor.

Lokasinya berada di prefektur Shiga Kota Minakuchi. Saya akan tinggal di asrama yang jarak tempuh ke pabrik sekitar 15 menit menggunakan sepeda. Dan akan tinggal bersama 7 orang senior yang berasal dari Indonesia juga.

Didalam satu perusahaan biasanya ditempatkan sekurang-kurangnya 2 sampai 5 orang kenshusei atau lebih. Tapi kebanyakan hanya 2 orang saja. Bahkan ada juga yang 1 orang.


Persiapan Keberangkatan


Selesai tes akhir maka sudah tidak ada lagi materi pelajaran yang dibahas. Maka dari itu kegiatan di kelas diisi dengan game atau kuis. Hari keberangkatan semakin dekat, banyak persiapan yang harus kami lakukan.

Acara upacara penutupan pelatihan adalah agenda berikutnya yang harus kami persiapkan. Dimana peserta harus menampilkan kesenian khas daerah masing-masing.

Disamping persiapan acara penutupan,kami juga harus mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa. Waktu itu keberangkatan dijadwalkan bulan November.

Pada bulan tersebut di Jepang sudah memasuki musim dingin. Otomatis peralatan yang wajib dibawa lumayan banyak,seperti jaket super tebal,syal,kupluk,sarung tangan dll.

18 November 2010 hari keberangkatan telah tiba. Cevest lebih ramai dari hari biasanya, ya karena pada hari itu banyak anggota keluarga yang ingin melihat atau mengantar anggota keluarganya yang akan berangkat.

Setelah upacara penutupan selesai,kami kembali ke asrama untuk ganti baju menggunakan kemeja batik dan membawa koper yang sudah terisi pakaian dan bumbu masakan. Sedih juga loh sobat pada saat akan meninggalkan kamar asrama yang sudah kami tempati selama 2 bulan.



Karena banyak suka dan dukanya,mulai dari tempat kami mengerjakan PR (shukudai), bercerita, potong rambut, nyamuk yang menemani kami tidur, dan masih banyak lagi deh pokoknya....!

Kami berkumpul di lapangan berbaris menuju bis,kami saat itu tampak gagah loh sobat...selain menggunakan kemeja batik,kami juga menggunakan peci dengan pin garuda. Dengan potongan rambut ala tentara.

Kami pun berpamitan,kepada sensei,keluarga, dan teman-teman junior yang masih pelatihan. Juga kepada teman-teman satu angkatan yang berstatus taikisha (belum mendapat perusahaan,jadi masih mengikuti sampai mendapat perusahaan).

Tangisan perpisahan saat itu pecah, seperti adegan kapal Titanic akan berlayar loh*. Bis pun berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta,selama perjalanan masih ada yang belum bisa menahan tangis karena akan berpisah untuk waktu 3 tahun. Disamping ada yang menangis tapi ada juga yang mengekspresikan kebahagiaannya.

Jadwal keberangkatan menuju bandara Narita Tokyo Jepang pukul 23.00 wib kalau tidak salah, kami sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta maghrib. Jadi masih banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga yang saat itu ikut mengantarkan sampai bandara.

Ketika papan display menunjukkan bahwa pesawat tujuan Narita sudah status boarding,dimulailah petualangan kami di negeri sakura. Banyak tantangan yang akan kami hadapi di Jepang, dan salah satu tantangan terbesar yaitu ego diri kami sendiri.

Baik sobat, terima kasih sudah menyempatkan membaca dari part 1 sampai 3, panjang juga yaa hehe....  tapi tunggu dulu postingan berikutnya part akhir, yaitu bagaimana sih setibanya di Jepang dan keseharian di training center.

Wassalamualaikum




























No comments:

Post a Comment

"Silakan komentar dengan bijak, sopan, dan tidak berbau SARA"

Belajar Memahami Pekerjaan

Assalamualaikum.. Akhirnya mulai ng-blog lagi nih, setelah berbulan-bulan buka blog cuma diliatin doang. Sempet bingung mau posting apa s...